Kamis, 19 September 2013

Udayana Book Store:
Saatnya Memulai Langkah Pertama

IGN Parikesit Widiatedja
Dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana
Saat ini studi di School of Law University of Washington

Jalinan Sinergi Pendidikan-Buku-Toko Buku
Mungkin telah lebih dari ribuan tulisan yang mengupas maha pentingnya pendidikan. Berbagai pendapat pun dilontarkan  oleh kalangan dari berbagai disipln ilmu. Sekedar berbagi, Aristoteles dan Ki Hajar Dewantara  mengemukakan bahwa ikhtiar perbaikan masyarakat hanya dapat dilakukan dengan terlebih dahulu memperbaiki sistem pendidikan.  Paulo Freire memaknai  pendidikan sebagai upaya untuk membebaskan rakyatnya dari keadaan tertindas. Jean J. Rosseau bahkan menyatakan bahwa semua yang kita butuhkan dan semua kekurangan kita ketika lahir, hanya akan terpenuhi melalui pendidikan. Conrad T Van Deventer lantas menyatakan Pendidikan sebagai landasan pertama seseorang untuk meraih cita-cita, Hingga pada I.H Abendonan yang menyatakan bangsa yang maju adalah bangsa yang mengutamakan pendidikan.
Di Indonesia, pemangku kepentingan pun nampaknya memiliki komitmen untuk memprioritaskan pendidikan. Ikhtiar yang dimulai  dengan proporsi pendanaan yang meningkat, peningkatan infrastruktur dan suprastruktur pendidikan, perumusan dan pelaksanaan beragam  kebijakan pendidikan. Tak hanya itu, berbagai fórum pertemuan, seminar, simposium, lokakarya dsg telah seringkali diadakan hanya untuk mencapai kata sepakat bahwa sektor ini memang menjadi kunci sukses peradaban manusia. Mereka (semoga) menyadari bahwa bangsa-bangsa yang menguasai pendidikan umumnya menunjukkan hegemoninya dibandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa perguruan tinggi menjadi lini penopang keberhasilan pembangunan dan pengembangan pendidikan di Indonesia. Dengan fungsi Tri Dharma yang dimiliki, ia memiliki andil yang kontributif dalam mencetak dan menghasilkan generasi-generasi penerus yang cerdas, keratif, dan berintegritas. Proses ini tentu akan sangat ditentukan dengan  alih atau transfer pengetahuan, teknologi, ketrampilan, hingga nilai-nilai yang didapatkan oleh para mahasiswa. Semakin baik proses integratif tersebut berjalan, hasilnya pun akan semakin baik. Tentu pada gilirannya ini akan semakin mendekatkan kenyataan untuk menjadi world class university.
Buku menjadi salah satu pipa penyalur keberhasilan proses transfer pengetahuan, tekenologi, keterampilan, dan nilai-nilai. Jika diibaratkan, pendidikan lebih bernuansa  konseptual-filosofis, dan buku sebagai tataran yang bersifat praktikal-sosiologis. Di tengah kecanggihan teknologi, khususnya dibidang komunikasi dan informasi, buku tampaknya menjadi media paling sederhana namun efektif dalam proses transfer di atas. Bagi kalangan intelektual, buku pun  merupakan penanda utama atau swadharma yang membedakannya dari kalangan lainnya. Disamping itu mengutip pendapat Arthur Schopenhaver, buku akan menetralisir ketimpangan peradaban sekarang ini dimana manusia lebih bergairah menjadi orang kaya ketimbang orang berbudaya.
            Buku juga telah teruji sebagai media lintas generasi yang sangat efektif. Guratan pemikiran-pemikiran orang-orang besar dijamannya terdokumentasikan secara rapi dan sistematis. Apa yang menjadi pemikiran  Plato, Aristoteles,  Von Savigny, Hans Kelsen, Soekarno, Hatta, hingga Satjipto Rahardjo  begitu lestari dan abadi, bahkan kita serasa dekat  apabila sering membaca dan mengutip ide dan pemikiran tokoh-tokoh tersebut melalui tulisan kita. Mereka telah terbukti mampu menyambung usia melalui karya-karya inspiratif yang dilahirkan dan terdokumentasikan dalam sebuah buku. Demikian halnya dengan pemikiran-pemikiran tokoh besar di era millennium ini, hanya dengan buku apa yang menjadi pemikiran mereka akan terwariskan kepada generas-generasi mendatang bahkan hingga seribu tahun kedepan.

            Berangkat dari pemahaman diatas, nampaknya kita perlu menyimak salah satu unsur penunjang yang eksistensinya belum mendapatkan perhatian yang serius. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan Toko Buku di Indonesia masih kalah jauh dari toko-toko yang lebih menjual produk-produk komersial yang bersifat konsumtif dan pragmatis. Kalangan perguruan tinggi, tempat berkumpulnya para ahli-ahli yang juga dapat bertindak sebagai produsen tulisan sebagai bahan baku utama suatu buku, juga belum memperhatikan urgensi keberadaan suatu toko buku universitas (University Book Store). Kita bisa menghitung dengan jari berapa banyak perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta di Indonesia yang memiliki toko buku universitas yang layak dan representatif.
           
             Adakah yang menyadari bahwa toko buku memegang peran yang sangat penting sebagai inisiator dan fasilitator berlangsung proses transfer pengetahuan, teknologi, keterampilan, dan nilai-nilai melalui buku?.  Laksana sebuah bank, ia sejatinya memegang fungsi intermediasi dalam menghimpun beragam buku yang  berasal dari penulis yang notabene berasal dari ahli-ahli perguruan tinggi dan penerbit buku, untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat. Tidak hanya itu, kehadiran toko buku menjadi bukti komitmen bagi pelaksanaan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi, kehadirannya menjadi media efektif untuk mendekatkan kalangan akademis dan masyarakat serta menghindari kesan mercu suar perguruan tinggi yang telah terdeteksi sejak puluhan tahun silam.

University Book Store: sejarah, manfaat, dan kontribusinya bagi universitas
Sebagai perbandingan,saat melangkahkan kaki pertama kali di University of Washington, Seattle, penulis cukup tercengang dengan kehadiran suatu bangunan besar yang berada di lokasi yang sangat strategis. Setiap pengunjung yang melewati wilayah University of Washington, pasti melewati toko ini mengingat lokasinya berada di jalan yang menjadi akses utama menuju universitas.  Bangunan yang berdiri diatas tanah seluas 50 are tersebut ternyata merupakan University Book Store of University of Washington. Jika dibandingkan dengan toko-toko yang berada di sekitarnya, bangunan ini merupakan bangunan yang terbesar. Tidak hanya itu, University Book Store ternyata memiliki lima toko cabang yang berada di wilayah yang berbeda-beda. Mungkin inilah yang  menjadi faktor universitas ini mendapatkan posisi ke-16 sebagai universitas terbaik di dunia pada 2012. (http://www.shanghairanking.com/ARWU2012.html)
Dari sejarahnya University Book Store of University of Washington telah berdiri sejak 10 Januari 1900. Toko ini berdiri kurang lebih 39 tahun setelah lahirnya University of Washington pada 1861. Toko ini pun mengalami era pasang surut sebelum menjadi besar seperti sekarang. Pada tahun 1924 dan 1927, diadakan proses renovasi dan perluasan area gedung. Pada tahun 1930, masa dimana resesi ekonomi dunia, toko ini mengalami era suram dan nyaris bangkrut. Untuk menyelamatkan keberadaannya, pihak pengelola harus meminjam 50.000 U$ kepada empat  bank besar di Amerika. Pada tahun 1961, mereka pada akhirnya mampu membuka toko cabang yang pertama dan dilanjutkan pada cabang yang kedua pada 1969. Empat toko cabang berikutnya masing-masing dibuka pada tahun 1987 yang terletak di Downtown Belleveu, 1991 yang terletak di Bothell dan  Tacoma, hingga yang terbaru pada tahun 2004 di Mill Greek Town Centre. (http://www.bookstore.washington.edu/home/images/pdf/ubs_history_2012_09_06.pdf)
Dari status badan hukum, University Book Store merupakan badan hukum yang berbentuk sejenis Perseroan Terbatas yang sahamnya dimiliki oleh seluruh civitas akademika University of Washington. Dari struktur organisasi, institusi  ini memiliki sebelas anggota dewan perwalian (board of trustee)yang anggotanya terdiri dari lima perwakilan mahasiswa, lima perwakilan fakultas, dan satu chief executive officer dari University Book Store. Dalam tataran manajamen, mereka dipimpin oleh satu chief executive officer, satu director of finance, satu director of human resources dan satu director operations.
Berbagai produk dijual dalam toko buku ini antara lain: buku popular, buku Teks, ensiklopedia, majalah, surat kabar, perlengkapan kantor, perlengkapan sekolah, perlengkapan rumah tangga, peralatan musik, peralatan olahraga, permainan anak-anak, peralatan computer, dan berbagai merchandise dan accesories University of Washington seperti jaket, t-shirt, polo-shirt, mug, dll yang tersedia bagi kalangan dewasa dan anak-anak hingga pet accessories. Sementara fasilitas pelayanan yang diberikan antara lain: on-phone order, online order, pick up store, used books seller dan services for disable students.

Menurut Louise Little, Chief Executive Officer University Book Store, dalam setiap tahunnya, toko buku ini mampu menghasilkan
-          Total penjualan atau omzet yang mencapai menjapai 28 Juta U$;
-          Alokasi pemberian dana bagi pemberian diskon kepada pelanggan yang jumlahnya mencapai 1 Juta U$;
-          Alokasi Pemberian beasiswa kepada mahasiswa University of Washington sejumlah 750 ribu U$;
-          Sumbangan kepada pihak rektorat University of Washington sejumlah 1 Juta U$;
-          Sumbangan sejumlah 2 juta U$ yang diwujudkan dalam pemberian subsidi bagi pembelian buku-buku teks oleh seluruh mahasiswa University of Washington.
-          Sumbangan sejumlah 1 Juta U$ yang dialokasikan bagi program kegiatan mahasiswa
-          Pendanaan pelaksanaan even-even ilmiah yang tiap tahunnya berjumlah sekitar 450 even.
-          Pemberian subsidi sejumlah 1 Juta U$ yang dialokasikan bagi pembelian produk hardware dan software komputer seluruh mahasiswa University of Washington
Udayana Book Store: Saatnya memulai langkah pertama  
Tentu tidaklah bijak apabila kita mencontoh tanpa melihat potensi, jati diri,  karakter, dan kemampuan  kita sendiri. Kendatipun demikian,  tidak dapat dipungkiri keberadaan university book store sesungguhnya memberikan manfaat yang luar biasa bagi seluruh civitas akademika itu sendiri. Sudah selayaknya Universitas Udayana sebagai perguruan tinggi tertua, terunggul dan terpopuler di Bali  memiliki sebuah university book store yang menjadi etalase konkrit hasil karya-karya atau produk unggulan Udayana.
Bagi universitas, keberadaan toko ini tentu menjadi bukti  komitmen peningkatan budaya akademik di lingkungan internal Universitas Udayana sebagai bagian dalam mewujudkan mimpi world class university. Tidak hanya itu, melalui pengelolaan yang mensinergikan prinsip good governance dan good corporate governance, eksistensinya akan menjadi sumber pendapatan baru yang potensial terlebih di era pengelolaan berbasiskan badan layanan umum (BLU). Tentu pada gilirannya, eksistensi toko buku ini akan meningkatkan kapasitas dan memobilisasi seluruh sumber daya yang tersedia yang pada glirannya akan meningkatkan kesejahteraan dari seluruh civitas akademika.
Bagi dosen, peluang untuk mempubikasikan karya nya pun akan semakin luas. Dosen Universitas Udayana pun akan tertantang dan tercambuk untuk selalu produktif dalam menghasilkan karya-karya ilmiah yang nantinya akan menjadi produk unggulan Udayana Book Store. Tentu dengan semakin banyaknya karya-karya ilmiah yang dihasilkan, nama Universitas Udayana pun akan terangkat dengan sendirinya. Mengapa kita begitu familiar dengan Harvard University,  Yale University, Oxford University? Tentu tidak lain karena karya-karya ilmiah yang dihasilkan.
Bagi mahasiswa, seperti yang terjadi di University of Washington, kehadiran University Book  Store ternyata memberikan segudang kemudahan bagi mahasiswa. Tidak hanya mampu memberikan dana beasiswa tiap tahun yang sangat meringankan beban mahasiswa, mereka mampu memberikan subsidi harga untuk setiap pembelian seluruh  buku teks, dan peralatan komputer oleh seluruh mahasiswa. University Book Store pun  mampu memberikan pendanaan untuk kegiatan ilmiah  kemahasiswaan.
Yang harus kita sadari keberadaan university book store  nantinya  tidak terjebak dalam kalkulasi untung-rugi ekonomi semata sehingga justru bersifat kontradiktif dengan visi dan orientasi pendidikan nasional. Tentu kita sepakat bahwa keberadaanya akan menjadi batu loncatan bagi upaya penciptaan, pembangunan, dan pembangunan karakter intelektual, karena proses ini  harus dilakukan secara terencana, terukur, konsisten dan berkelanjutan. Dan setelah itu, terciptanya budaya akademik menjadi buah manis yang kita petik.  Jika kita perhatikan, Negara-negara maju yang ada di planet ini adalah Negara-negara yang menjadikan pendidikan sebagai suatu budaya.

Memang ribuan jarak harus dimulai dengan satu langkah, dan belumlah terlambat untuk memulai langkah tersebut. Memulai ikhtiar untuk menjadikan buku sebagai budaya dengan mendirikan suatu university book store. Tentu yang perlu ditekankan bahwa tidak perlu berpikir untuk langsung mendapatkan yang terbaik di masa sekarang tetapi bagaimana kita mampu memberikan pondasi intelektual yang lebih kuat untuk generasi mendatang.


Tidak ada komentar:

Kok Rapid Test Bayar?

Kok Rapid Test Bayar? Ada hal yang membuat saya sedikit heran akhir-akhir ini, yakni   soal rapid test. Logika saya sederhana? Mengapa kit...